Lompat ke isi utama

Berita

Alnofrizal Dorong Green Election Guna Menciptakan Pemilu Ramah Lingkungan dan Mewujudkan Demokrasi Berkelanjutan

Alnofrizal Dorong Green Election Guna Menciptakan Pemilu Ramah Lingkungan dan Mewujudkan Demokrasi Berkelanjutan

Pekanbaru, Bawaslu Riau — Pemiihan Umum selalu menjadi ajang pesta demokrasi yang besar, melibatkan partisipasi jutaan orang dari berbagai latar belakang. Namun, di balik semarak Pemilu, seringkali ada dampak besar pada lingkungan dari bahan kampanye yang menghasilkan sampah hingga konsumsi energi yang tinggi dalam proses pemilihan. Di sinilah konsep Green Election atau Pemilu Ramah Lingkungan hadir sebagai solusi yang mengedepankan keberlanjutan.

Green Election atau Pemilu Ramah Lingkungan adalah konsep Pemilu yang menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas utama. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ramah lingkungan, mulai dari kampanye hingga proses pemungutan suara, Green Election berupaya mengurangi jejak karbon dan limbah yang biasanya dihasilkan oleh Pemilu. Mungkin ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa besar dan berarti.

Ketua Bawaslu Riau, Alnofrizal, menyerukan pentingnya pelaksanaan Green Election atau Pemilu ramah lingkungan sebagai bagian dari komitmen mewujudkan demokrasi yang tidak hanya jujur dan adil, tetapi juga berkelanjutan. Alnofrizal menyampaikan bahwa pelaksanaan Pemilu selama ini cenderung menghasilkan jejak ekologis yang besar. Oleh karena itu, konsep Green Election harus menjadi gerakan bersama dalam setiap tahapan pemilu, mulai dari kampanye hingga proses pemungutan dan Penghitungan Suara.

“Demokrasi bukan hanya soal suara, tapi juga soal tanggung jawab terhadap lingkungan. Pemilu yang ramah lingkungan adalah bagian dari demokrasi yang berkelanjutan,” tegas Alnofrizal saat dikonfirmasi di ruang kerja, Kamis (24/7/2025).

Alnofrizal mencontohkan bahwa pada Pemilu dan Pilkada yang sudah berjalan penggunaan alat peraga kampanye (APK) yang berlebihan, terutama yang berbahan plastik dan sulit terurai, masih marak terjadi. Belum lagi pemasangan APK di pohon-pohon atau ruang terbuka hijau yang merusak estetika dan lingkungan.

Menurutnya, langkah-langkah menuju Green Election dapat dilakukan dengan cara sederhana namun berdampak, seperti mengurangi produksi bahan kampanye cetak menggunakan bahan plastik atau sulit terurai, beralih ke bahan kampanye yang mudah terurai , kampanye melalui media digital yang lebih efisien dan minim sampah, serta memastikan setiap kegiatan politik tidak merusak fasilitas publik dan lingkungan alam.

“Kami tidak melarang kampanye, tapi mendorong peserta pemilu untuk melakukannya secara etis, kreatif, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, Alnofrizal juga mendorong partisipasi aktif pemilih muda, khususnya mahasiswa, dalam mengawal pemilu yang bersih dan berwawasan lingkungan.
“Pemuda dan mahasiswa memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai agen perubahan menuju pemilu yang lebih hijau dan bertanggung jawab,” tutupnya.

Pemilu ramah lingkungan tidak hanya berarti menyelenggarakan pemilu yang bebas dari sampah dan emisi karbon tinggi, tetapi juga menjadi cerminan bahwa demokrasi bisa berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Dengan Green Election, kita tidak hanya memilih pemimpin yang akan membawa perubahan tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap bumi yang kita tinggali.

Jika setiap dari kita berkomitmen untuk mendukung pemilu yang ramah lingkungan, pemilu berikutnya akan menjadi momen di mana kamu dan kita semua berkontribusi dalam menciptakan masa depan demokrasi yang lebih hijau.

Penulis : Laode
Editor : Hasanul

toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle